![]() |
Jadi awalnya itu, sekitar satu bulan lewat 8 hari
Semuanya dimulai dengan sebuah nasihat.
"Udah, jangan terlalu didengerin. Fokus aja ke depan."
Awalnya, dia ragu. Ada sesuatu dalam dirinya yang masih ingin mendengar, ingin mempertimbangkan, ingin memahami. Tapi nasihat itu terdengar meyakinkan.
Beberapa minggu berlalu, nasihat itu datang lagi.
"Udah! Fokus aja, jangan terlalu diambil hati dan dipikirin omongan orang!"
Lama-lama, kata-kata itu terasa lebih masuk akal. Memikirkan orang lain hanya menambah beban. Toh, mereka tidak benar-benar peduli, jadi untuk apa dia harus peduli?
Lalu, waktu terus berjalan.
"Udah jangan terlalu dipikirin, jangan terlalu diambil pusing. Tenang aja, nanti juga bakal hilang."
Dia mulai percaya bahwa semua ini hanyalah kebisingan. Semakin lama, semakin mudah baginya untuk mengabaikan.
Tujuh tahun berlalu. Delapan tahun. Sebelas tahun.
Sekarang dia tak perlu lagi dinasihati. Dia sudah tahu sendiri.
Dan akhirnya...
Kini dia sering pura-pura bodoh, pura-pura tak dengar, pura-pura tidak tahu. Bukan lagi kebiasaan, tapi refleks.
Tidak ada alasan untuk mendengar. Tidak ada alasan untuk memikirkan.
Dan pada titik ini, segalanya menjadi sederhana:
Itulah yang tersisa. Itulah yang sekarang ada.
Sekian.

0 Comments