05# The Beginning of Human Philosophy : Sat-Set Bahas Thaumazein dan Thaumasia

 

Illustrasi AI


Sebelumnya : 04# Sebelum Filsafat (Before Philosophy Became the Solution)

Kenapa manusia itu suka banget berfilsafat. Kenapa sih kita harus berpikir dalam-dalam, merenung serius, dan kadang malah terjebak di pertanyaan yang kayaknya nggak ada ujungnya? Kok manusia doyan banget mikir yang njelimet? Nah, salah satu jawabannya ada di konsep Thaumasia dan Thaumazein.


Kenapa Kita Berfilsafat?

Jawaban paling simpel, ya karena kita manusia yang punya otak dan akal. yakan ?

Tapi ternyata ada alasan lain yang lebih filosofis, salah satunya adalah Thaumasia.

Jadi, menurut Aristoteles, alasan utama manusia berfilsafat adalah karena rasa heran dan kagum terhadap dunia. Thaumasia ini bisa diartikan sebagai dorongan ingin tahu tentang segala sesuatu yang kita lihat dan alami. Ketika ada fenomena yang terjadi dan nggak bisa langsung dijelaskan, manusia jadi terdorong buat mencari tahu. Dan dari situ, muncullah filsafat.



Tapiii... rasa heran di sini bukan sekadar kaget atau takjub aja ya. Bukan cuma "Wah keren!" terus selesai. Lebih dari itu, rasa heran ini bikin kita kepo, pengen ngulik lebih dalam, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Misalnya, ketika manusia pertama kali melihat bintang di langit, mereka nggak cuma sekadar terpesona. Mereka mulai bertanya-tanya: "Kenapa bintang ini ada? Kenapa dia muncul di malam hari aja? Kenapa ada yang lebih terang dan ada yang redup?"

Atau misalnya, ketika ada seseorang yang meninggal setelah makan sesuatu, orang-orang nggak cuma sekadar sedih atau takut. Mereka bakal mulai bertanya: "Makanan apa itu? Kenapa bisa menyebabkan kematian? Apakah ada zat tertentu di dalamnya?" Nah, keheranan semacam inilah yang mendorong manusia untuk berpikir lebih jauh.

Thaumazein: Keheranan yang Lebih Dalam

Selain Thaumasia, ada juga konsep Thaumazein yang lebih dulu muncul sebelum Aristoteles bicara tentang Thaumasia. Bedanya, kalau Aristoteles lebih condong ke hal-hal yang nyata dan bisa dijelaskan di dunia ini, Plato lebih menyoroti aspek yang lebih abstrak dan metafisik.

Jadi, kalau Thaumasia itu lebih fokus pada realitas yang bisa dipahami secara ilmiah dan praktis, Thaumazein justru mendorong manusia buat mempertanyakan hal-hal yang lebih dalam dan ideal. Konsep ini lebih mengarah ke dunia ide dan hal-hal yang nggak langsung kelihatan.

Contohnya gini. Kalau ada orang yang melihat bintang, dia nggak cuma bertanya tentang pergerakan atau kenapa bintang ada di malam hari. Dia bakal berpikir lebih jauh lagi: "Apa makna keberadaan bintang ini? Apakah ada bentuk bintang yang lebih sempurna di dunia yang lain? Apakah kita benar-benar memahami esensi dari bintang itu sendiri?" Pertanyaan-pertanyaan kayak gini lebih filosofis dan lebih mendalam.

Aristoteles dan Plato

Singkatnya, Aristoteles melihat filsafat sebagai respons keheranan manusia terhadap realitas yang bisa dipahami dan diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Sementara Plato melihat filsafat sebagai dorongan untuk memahami sesuatu yang lebih abstrak dan ideal, melampaui dunia nyata.

Tapi pada akhirnya, dua pemikiran ini tetap saling melengkapi. Filsafat butuh keduanya, baik yang membahas realitas konkret maupun yang mengejar kebenaran ideal. Walaupun pemikiran Plato muncul lebih dulu, Aristoteles kemudian memberikan perspektif yang lebih praktis.


Selanjutnya : 06# A Philosophical Journey Begins (Langkah Awal)

Post a Comment

0 Comments