![]() |
| Illustasi AI : Agorakita.com |
Sebelumnya : 02# - Filsafat = Yunani
Filsafat sering banget dianggap sebagai sesuatu yang ribet dan cuma buat orang akademis orang-orang jenius, orang tua dan seterusnya.
Padahal, buat saya, filsafat itu seharusnya bisa dikunyah semua orang bener-bener bisa diterapin dan dipelajarin oleh siapapun.
Karena buat saya, filsafat bisa merubah cara pandang dan cara mikir saya, (meskipun mungkin cuma sedikit) tapi seharusnya filsafat seperti itu. Bisa untuk semua orang.
Satu hal yang filsafat tekankan adalah keterbukaan pikiran. Filsafat kayak ‘maksa’ kita buat terus penasaran, selalu mempertanyakan sesuatu, dan nggak gampang nerima sesuatu sebagai kebenaran mutlak tanpa dipikirin lebih dalam.
Nah, salah satu dampak paling gede dari filsafat buat saya adalah kemampuannya buat ngebongkar bias yang selama ini udah nempel di kepala kita. Saya nyebut filsafat ini sebagai “The Killer of Bias” – si penghancur bias yang sering kali kita terima tanpa kita sadari.
Apa Itu Bias?
Bias itu semacam pemahaman atau kepercayaan yang kita anggap benar tanpa pernah bener-bener mempertanyakan lebih dalam. Bias ini bisa datang dari mana aja, mulai dari lingkungan, kebiasaan keluarga, keyakinan komunal, atau bahkan doktrin yang diwarisin turun-temurun.
Contohnya kayak:
- Perempuan itu harus di rumah, sementara laki-laki cari nafkah.
- Tokoh agama tertentu pasti benar dan nggak boleh diperdebatkan.
- Segala sesuatu dari Barat itu modern, atau sebaliknya, harus dihindari.
- orang tua pasti bener!
Tanpa kita sadar, bias-bias kayak gini tuh ngebentuk cara kita mikir dan bertindak. Nah, di sinilah filsafat hadir buat mencurigai semua itu, buat ngebantu kita ngeliat segala sesuatu dari perspektif yang lebih luas.
Gimana Filsafat Ngebantu Kita Ngebasmi Bias?
Filsafat ngajarin saya buat skeptis dan kritis dalam mikir. Bukan berarti jadi orang yang nggak percaya apa-apa, tapi lebih ke jangan gampang nerima sesuatu tanpa mikir ulang. Misalnya, pas kita dapet sebuah pernyataan, coba tanya:
- Bener nggak sih ini?
- Apa buktinya?
- Ada sudut pandang lain yang perlu dipertimbangin nggak?
Sejarah filsafat sendiri lahir dari kebiasaan kayak gini. Awalnya, manusia percaya sama hal-hal mistis dan dewa-dewa, sampai akhirnya ada orang-orang yang mulai bertanya: “Sebenernya ini masuk akal nggak sih?” Dari situlah muncul pemikiran rasional dan kajian-kajian tentang dunia yang lebih logis.
Kebiasaan Berpikir Kritis yang Filsafat Tanamkan
Buat saya pribadi, filsafat bener-bener ngebiasain kita buat:
- Skeptis sama informasi – nggak langsung percaya sebelum dicek dulu.
- Kritis dalam mikir – nggak asal nerima opini atau doktrin tanpa analisis.
- Ngekaji ulang hal-hal yang udah kita anggap bener – siapa tahu selama ini kita salah.
Karena ya jujur aja, kita sering banget kejebak bias tanpa sadar. Dan filsafat ini tuh hadir buat ngebongkar semua itu. Dengan filsafat, kita jadi lebih biasa buat mikir, buat nanya, buat cari tahu.
Kesimpulan
Filsafat bukan sekadar teori berat atau omongan akademisi. Ini adalah alat buat ngebantu kita ngelawan bias yang selama ini mungkin udah kita anggap sebagai kebenaran mutlak. Dengan kebiasaan berpikir kritis dan skeptis, kita bisa lebih bijak dalam nanggepin informasi dan keyakinan di sekitar kita.
Jadi, semoga tulisan ini bisa ngebantu dan bikin kita semua jadi lebih suka mikir dan nggak gampang percaya begitu aja.
Terima kasih udah baca! Semoga bermanfaat.
Selanjutnya : 04# Sebelum Filsafat (Before Philosophy Became the Solution)

0 Comments