The Origins of Its ‘Haram’ Label Among the Public (Asal Mula Ketakutan Orang Awam terhadap Filsafat)

Illustrasi Ai : Agorakita.com



Jumat, 15 Agustus 2025, kajian keagamaan akan segera dimulai.

Seorang ayah, bapak dari satu anak, berjalan dengan penuh semangat menuju tempat kajian. Sambil melihat Baliho yang berisi Tema kajian tentang "Menjaga Aqidah" Ia berharap mendapatkan pemahaman agama yang lebih baik, memperdalam ilmunya agar bisa menjadi pribadi yang lebih taat.

Di dalam majelis, ia duduk khusyuk, mendengarkan setiap kata dan tanya jawab yang dilakukan oleh ustaz dan jemaah. Entah mengapa, kali ini ia merasa ada sesuatu yang berbeda, setelah ada pertanyaan tentang Filsafat. tapi Ia tetap mencoba memahami dan meresapi isi kajian sebaik mungkin.

Waktu menunjukkan pukul 21.15 yang menandakan berakhirnya kajian tersebut, sedikit demi sedikit para jamaah mulai keluar dari tempat acara. Mereka pulang dengan hati yang penuh kebanggaan, merasa beruntung bisa menghadiri majelis ilmu sejak sebelum acara dimulai.

Namun, ada satu hal yang terus terngiang dalam benaknya.

"Filsafat itu haram. Filsafat hanya dilakukan oleh orang-orang yang tidak beriman."

Pernyataan itu terus menggema di kepalanya. Ia tidak begitu menangkap semua isi kajian secara utuh, tetapi kata-kata itu menancap kuat dalam pikirannya. Sepanjang perjalanan pulang, ia bertanya-tanya, apa sebenarnya filsafat? Mengapa dianggap haram?

Dalam benaknya, filsafat hanya sekadar pertanyaan-pertanyaan dasar, hal-hal yang tampak tidak perlu, sesuatu yang tidak menambah keimanannya. Seketika ia merasa paham maksud dari ustaz tadi.

"Oh, ini sebabnya filsafat haram. Tidak perlu dipelajari. Bahkan berbahaya, bisa menggoyahkan iman."

**

Ke esokan hari, tiga belas menit sebelum azan Magrib berkumandang, anak perempuannya menghampiri.

Dengan wajah polos, sang anak bertanya,

"Ayah, mengapa kita harus beribadah? Mengapa Tuhan meminta kita beribadah? Apa bukti Tuhan itu ada? Di mana Tuhan?"

Sang ayah memejamkan mata sejenak, lalu tersenyum.

"Ada hal yang lebih baik dari pertanyaan-pertanyaanmu tadi," katanya lembut.

Anaknya menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu. "Apa itu?"

Sang ayah mengusap kepala putrinya dengan lembut, lalu berkata, "Berhentilah memikirkan hal-hal yang aneh. Fokuslah beribadah, karena itu lebih baik untukmu."

Anak 5 tahun itu tersenyum dan mengangguk. Tanpa banyak tanya, ia menerima jawaban itu sebagai kebenaran.

Sementara itu, di dalam hati sang ayah, sesuatu bergejolak. Namun, ia memilih mengabaikannya.

ah entahlah pokoknya semoga keluarga saya dilindungin dari kesyirikan dan kekufuran

Post a Comment

0 Comments