Meaning Of : "The Origins of Its ‘Haram’ Label Among the Public (Asal Mula Ketakutan Orang Awam terhadap Filsafat)"




Pemabahasan Fragmentaris : The Origins of Its ‘Haram’ Label Among the Public (Asal Mula Ketakutan Orang Awam terhadap Filsafat)


Di zaman sekarang segalalu sesuatu nya itu serba cepet, kita sering dan mudah banget untuk dapet ilmu dari berbagai sumber—kajian, ceramah, video di media sosial yang durasinya bisa sewindu sampai cuman se'uprit'. Tapi, nggak semua informasi yang kita terima itu selalu objektif. Makanya, penting banget buat kita hati-hati dalam menyerap ilmu, terutama yang berkaitan sama agama.

Peran Penting Seorang 'Pembicara'

Seorang ustaz atau pendidik agama punya tanggung jawab gede dalam menyampaikan ilmu. Setiap Kata yang mereka ucapkan bisa banget ngebentuk cara pikir, pandangan, bahkan keyakinan seseorang. Kalau mereka nggak hati-hati dalam menyampaikan sesuatu, apalagi kalau cenderung menggiring opini tanpa memberikan gambaran yang adil, dampaknya bisa besar banget. Besar banget !

Banyak orang awam yang nggak punya akses ke sumber lain selain dari ustaz atau guru ngajinya. Kalau yang disampaikan setengah-setengah atau nggak berimbang, bisa jadi mereka nganggapnya sebagai kebenaran mutlak. Ini yang kadang bikin ketakutan atau kesalahpahaman terhadap suatu hal, misalnya kayak filsafat yang sering dicap negatif.

Perasangka buruk Terhadap Filsafat

Sebagian orang nganggap filsafat berbahaya karena dianggap bisa bikin orang ragu sama agamanya. Padahal, kalau mau jujur, filsafat itu cuma metode berpikir kritis—sama kayak kita bertanya tentang kenapa sesuatu itu bisa terjadi. Se Simple itu.

Padahal Islam sendiri nggak melarang orang buat berpikir dan mencari kebenaran. Bahkan banyak ayat dalam Al-Qur’an yang justru nyuruh manusia buat mikirin alam semesta, penciptaan, dan segala sesuatu di sekitarnya. Jadi, kalau ada yang bilang filsafat haram tanpa ngasih penjelasan yang jelas, kita patut buat bertanya lebih jauh, kita harus tau kenapa dan apa sebabnya, jangan main iya in aja hanya karena 'siapa yang menyampaikan'.

Kita Juga PR Banget

Jangan salah! walaupun peran 'Pembicara' itu penting banget, kita juga selaku "Penerima' Informasi punya peran yang gak kalah penting. Kita nggak bisa cuma nerima informasi mentah-mentah tanpa mikirin lebih jauh. Islam ngajarin konsep tabbayun, yaitu mencari tahu dulu sebelum menerima sesuatu. Mau yang ngomong itu ustaz, guru, atau tokoh terkenal sekalipun, tetap perlu kita kritisi.

Jadi, poin pentingnya adalah:

  • Pembicara, Ustaz atau pendidik/apapun itu punya tanggung jawab besar buat nyampein ilmu dengan adil, nggak setengah-setengah, dan sebisa mungkin objektif. walaupun kita yakin bahwa niat nya itu baik, tapi tetep objektif itu penting dan bisa aja apa yang di sampaikan itu salah atau keliru, toh mereka juga bukan nabi kan ya.

  • Kita sebagai pendengar juga harus kritis dalam menerima informasi. Jangan gampang percaya tanpa mikir, jangan maen 'iya' in aja. Harus kritis, harus bisa faham isi dari informasi itu sebaik mungkin, bisa jadi konteksnya beda, bisa jadi maksudnya kemana kan ya, toh gak nutup kemungkinan kita juga akan nyampein informasi atau pesan yang udah kita terima ke orang lain, ke keluarga, ke temen atau kemana pun kita sebar.

  • Dan yang paling penting Berpikir itu nggak haram. Justru, dengan berpikir kita bisa lebih memahami dan menguatkan keyakinan kita sendiri. Serius !
    kalo kita kritis dengan apa yang udah kita yakini, kita bisa mencari argumen, kita bisa uji sehingga keyakinan kita itu udah keuji, udah bukan cuman 'kata orang'

Kesimpulannya, belajar itu penting, apalagi belajar agama, penting banget!. Tapi kita harus inget cara kita menyerap ilmu juga harus bener. Jangan asal telan, JANGAN TAKUT NANYA, Jangan takut mastiin kebenarannya, dan jangan berhenti buat nyari tahu lebih dalam. toh kebaikan dari hasil pencarian kebenaran kan buat kita-kita juga, dari pada tersesat di jalan kan ya.

Sekian ...

Post a Comment

2 Comments

  1. Gue baru kepikiran, ternyata ustaz emang punya pengaruh gede banget ya. Harusnya lebih hati-hati dalam ngomong.

    ReplyDelete
  2. Setuju sama bagian terakhir! Jangan asal telan mentah-mentah, apalagi kalau cuma denger dari satu orang.

    ReplyDelete